Senin, 19 Januari 2015

Be A Drama Queen

Edit Posted by with No comments
Benarkah aku mencintaimu? Sanggupkah aku untuk membiarkan hatiku untuk jatuh? Sanggupkah aku menahan rasa bahagia dan sedih dengan ukuran yang aku tidak tau mana yang akan lebih besar? Sanggupkah aku jika aku tak mampu lagi bangkit karenamu? Sanggupkah aku jika hanya bisa menganggap itu masa lalu? Sanggupkah aku jika ternyata hal yang ku anggap berarti tak berarti untuknya? Sangggupkah aku untuk tidak terlalu jatuh dalam pesonamu? Dalam tatapanmu? Dalam dekapanmu? Sanggupkah? Sanggupkah aku jika aku mengetahui kalau semua hanya mimpi? Hanyalah kisah semu belaka. Aku tidak sanggup. Tapi aku mencintaimu. Dan saat aku mengatakan itu, itu berarti aku sudah terlanjur jatuh. Tanpa menyiapkan rasa bahagia dan sedih yang harus kutanggung di saat bersamaan. Aku terlalu jatuh terperosok, sehingga saat ini aku tak bisa bangkit darimu.
                                                          ***

Apa ini di mulai pada tatapanmu di hari itu? Apa boleh ku katakan kalau aku terkunci dalam tatapanmu? Karena itulah yang terjadi. Kau bukan dari golongan lelaki yang pantas ku jadikan daftar pria dambaan. Mengapa? Baiklah, akan ku beri tahu. Kau tampan? Tidak. Kau pintar? Tidak. Kau anak alim? Tidak. Kau tajir? Tidak. Jadi gak ada yang special darimu. Kau bahkan tak masuk dari salah satu criteria cowok idamanku. Jadi apa yang salah darinya? Bodohnya adalah, saat kau jatuh cinta kau terlihat bodoh dan buta akan segala hal. Dan karenamu lah aku tahu, kalau aku tidak sepintar seperti yang aku pikirkan selama ini tentang ku. Terkekeh geli dengan pemikiranku saat ini. Aku berani melakukan segala konyol yang bahkan tak pernah ku bayangkan sebelumnya aku akan melakukan hal semacam itu. Mendadak aku jadi drama queen saat itu. Menyenderkan kepalaku dengan alibi ketidaksengajaan karena ketiduran. Aku bahkan tidak tidur saat itu. Aku mendengar setiap kata yang kau lontarkan bersama temanmu. Betapa aku berusaha kesar untuk tidak tertawa dan menimpali perkataan kalian agar aku tetap dalam posisi di dekapanmu saat itu. Kau percaya aku benar-benar tidur? Haha, entah kenapa aku gatal sekali untuk mengatakan kalau saat itu aku hanya berpura-pura. Seperti apa sikapmu setelahnya? Marah? Bagaimana ekspresimu?  Tapi aku takut jika kau benar-benar marah. Kehilangan sesuatu yang pada ke nyataanya buka milik kita, rasanya lebih menyakitkan menurutku. mungkin aku harus berhenti dari sini.