Benarkah
aku mencintaimu? Sanggupkah aku untuk membiarkan hatiku untuk jatuh? Sanggupkah
aku menahan rasa bahagia dan sedih dengan ukuran yang aku tidak tau mana yang
akan lebih besar? Sanggupkah aku jika aku tak mampu lagi bangkit karenamu?
Sanggupkah aku jika hanya bisa menganggap itu masa lalu? Sanggupkah aku jika
ternyata hal yang ku anggap berarti tak berarti untuknya? Sangggupkah aku untuk
tidak terlalu jatuh dalam pesonamu? Dalam tatapanmu? Dalam dekapanmu?
Sanggupkah? Sanggupkah aku jika aku mengetahui kalau semua hanya mimpi?
Hanyalah kisah semu belaka. Aku tidak sanggup. Tapi aku mencintaimu. Dan saat
aku mengatakan itu, itu berarti aku sudah terlanjur jatuh. Tanpa menyiapkan
rasa bahagia dan sedih yang harus kutanggung di saat bersamaan. Aku terlalu
jatuh terperosok, sehingga saat ini aku tak bisa bangkit darimu.
***
Apa ini di mulai pada tatapanmu di
hari itu? Apa boleh ku katakan kalau aku terkunci dalam tatapanmu? Karena
itulah yang terjadi. Kau bukan dari golongan lelaki yang pantas ku jadikan
daftar pria dambaan. Mengapa? Baiklah, akan ku beri tahu. Kau tampan? Tidak.
Kau pintar? Tidak. Kau anak alim? Tidak. Kau tajir? Tidak. Jadi gak ada yang
special darimu. Kau bahkan tak masuk dari salah satu criteria cowok idamanku.
Jadi apa yang salah darinya? Bodohnya adalah, saat kau jatuh cinta kau terlihat
bodoh dan buta akan segala hal. Dan karenamu lah aku tahu, kalau aku tidak
sepintar seperti yang aku pikirkan selama ini tentang ku. Terkekeh geli dengan
pemikiranku saat ini. Aku berani melakukan segala konyol yang bahkan tak pernah
ku bayangkan sebelumnya aku akan melakukan hal semacam itu. Mendadak aku jadi
drama queen saat itu. Menyenderkan kepalaku dengan alibi ketidaksengajaan
karena ketiduran. Aku bahkan tidak tidur saat itu. Aku mendengar setiap kata
yang kau lontarkan bersama temanmu. Betapa aku berusaha kesar untuk tidak
tertawa dan menimpali perkataan kalian agar aku tetap dalam posisi di dekapanmu
saat itu. Kau percaya aku benar-benar tidur? Haha, entah kenapa aku gatal
sekali untuk mengatakan kalau saat itu aku hanya berpura-pura. Seperti apa
sikapmu setelahnya? Marah? Bagaimana ekspresimu? Tapi aku takut jika kau benar-benar marah.
Kehilangan sesuatu yang pada ke nyataanya buka milik kita, rasanya lebih
menyakitkan menurutku. mungkin aku harus berhenti dari sini.

0 komentar:
Posting Komentar